Multimeter

01.35
Multimeter adalah alat ukur yang dipakai untuk mengukur tegangan listrik, arus listrik, dan tahanan (resistansi). Itu adalah pengertian multimeter secara umum, sedangkan pada perkembangannya multimeter masih bisa digunakan untuk beberapa fungsi seperti mengukur temperatur, induktansi, frekuensi, dan sebagainya. Ada juga orang yang menyebut multimeter dengan sebutan AVO meter, mungkin maksudnya A (ampere), V(volt), dan O(ohm).
Multimeter dibagi menjadi dua yaitu : 




Multimeter Analog atau yang biasa disebut multimeter jarum adalah alat pengukur besaran listrik yang menggunakan tampilan dengan jarum yang bergerak ke range-range yang kita ukur dengan probe . Multimeter ini tersedia dengan kemampuan untuk mengukur hambatan ohm, tegangan (Volt) dan arus (mA). Analog tidak digunakan untuk mengukur secara detail suatu besaran nilai komponen, tetapi kebanyakan hanya digunakan untuk baik atau jeleknya komponen pada waktu pengukuran atau juga digunakan untuk memeriksa suatu rangkaian apakah sudah tersambung dengan baik sesuai dengan rangkaian blok yang ada.


Multimeter digital hampir sama fungsinya dengan multimeter analog tetapi multimeter digital menggunakan tampilan angka digital. Multimeter digital pembacaan pengukuran besaran listrik yang lebih tepat jika dibanding dengan multimeter analog, sehingga multimeter digital dikhususkan untuk mengukur suatu besaran nilai tertentu dari sebuah komponen secara mendetail sesuai dengan besaran yang diinginkan.

Bagian Bagian Multimeter

·  Papan Skala : digunakan untuk membaca hasil pengukuran. Pada papan skala terdapat skala-skala; tahanan/resistan (resistance) dalam satuan Ohm (Ω), tegangan (ACV dan DCV), kuat arus (DCmA), dan skala-skala lainnya.

·  Saklar Jangkauan Ukur : digunakan untuk menentukan posisi kerja  multimeter , dan batas ukur (range). Jika digunakan untuk mengukur nilai satuan tahanan (dalam W), saklar ditempatkan pada posisi W, demikian juga jika digunakan untuk mengukur tegangan (ACV-DCV), dan kuat arus (mA-mA). Satu hal yang perlu diingat, dalam mengukur tegangan listrik, posisi saklar harus berada pada batas ukur yang lebih tinggi dari tegangan yang akan diukur. Misal, tegangan yang akan diukur 220 ACV, saklar harus berada pada posisi batas ukur 250 ACV. Demikian juga jika hendak mengukur DCV.

·  Sekrup Pengatur Posisi Jarum (preset) : digunakan untuk menera jarum penunjuk pada angka nol (sebelah kiri papan skala).

·  Tombol Pengatur Jarum Pada Posisi Nol (Zero Adjustment) : digunakan untuk menera jarum penunjuk pada angka nol sebelum  multimeter  digunakan untuk mengukur nilai tahanan/resistan. Dalam praktek, kedua ujung kabel penyidik (probes) dipertemukan, tombol diputar untuk memosisikan jarum pada angka nol.

·  Lubang Kabel Penyidik : tempat untuk menghubungkan kabel penyidik dengan Multimeter. Ditandai dengan tanda (+) atau out dan (-) atau common. Pada  multimeter  yang lebih lengkap terdapat juga lubang untuk mengukur hfe transistor (penguatan arus searah/DCmA oleh transistor berdasarkan fungsi dan jenisnya), dan lubang untuk mengukur kapasitas kapasitor.

Cara menggunakan Multimeter
1.                  Mengukur tegangan DC
·                     Atur Selektor pada posisi DCV.
·                     Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar tegangan yang akan di cek,              tegangan yang di cek sekitar 12Volt maka atur posisi skala di batas ukur 50V.
·                     Untuk mengukur tegangan yang tidak diketahui besarnya maka atur batas ukur pada posisi tertinggi supaya multimeter tidak rusak.
·                     Hubungkan atau tempelkan probe multimeter ke titik tegangan yang akan dicek, probe warna merah pada posisi (+) dan probe warna hitam pada titik (-) tidak boleh terbalik.
·                     Baca hasil ukur pada multimeter.
2.                  Mengukur tegangan AC
·                     Atur Selektor pada posisi ACV.
·                     Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar tegangan yang akan di cek, jika tegangan yang di cek sekitar 12Volt maka atur posisi skala di batas ukur 50V.
·                     Untuk mengukur tegangan yang tidak diketahui besarnya maka atur batas ukur pada posisi tertinggi supaya multimeter tidak rusak.
·                     Hubungkan atau tempelkan probe multimeter ke titik tegangan yang akan dicek. Pemasangan probe multimeter boleh terbalik.
·                     Baca hasil ukur pada multimeter.
3.                  Mengukur kuat arus DC
·                     Atur Selektor pada posisi DCA.
·                     Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar arus yang akan di cek, misal : arus yang di cek sekitar 100mA maka atur posisi skala di batas ukur 250mA atau 500mA.
·                     Perhatikan dengan benar batas maksimal kuat arus yang mampu diukur oleh multimeter karena jika melebihi batas maka fuse (sekring) pada multimeter akan putus dan multimeter sementara tidak bisa dipakai dan fuse (sekring) harus diganti dulu.
·                     Pemasangan probe multimeter tidak sama dengan saat pengukuran tegangan DC dan AC, karena mengukur arus berarti kita memutus salah satu hubungan catu daya ke beban yang akan dicek arusnya, lalu menjadikan multimeter sebagai penghubung.
·                     Hubungkan probe multimeter merah pada output tegangan (+) catu daya dan probe (-) pada input tegangan (+) dari beban/rangkaian yang akan dicek pemakaian arusnya.
·                     Baca hasil ukur pada multimeter.
4.                  Mengukur nilai hambatan sebuah resistor tetap
·                     Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
·                     Pilih skala batas ukur berdasarkan nilai resistor yang akan diukur.
·                     Batas ukur ohmmeter biasanya diawali dengan X (kali), artinya hasil penunjukkan jarum nantinya dikalikan dengan angka pengali sesuai batas ukur
·                     Hubungkan kedua probe multimeter pada kedua ujung resistor boleh terbalik.
·                     Baca hasil ukur pada multimeter, pastikan nilai penunjukan multimeter sama dengan nilai yang ditunjukkan oleh gelang warna resistor.
5.                  Mengukur nilai hambatan sebuah resistor variabel (VR)
·                     Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
·                     Pilih skala batas ukur berdasarkan nilai variabel resistor (VR)yang akan diukur.
·                     Batas ukur ohmmeter biasanya diawali dengan X (kali), artinya hasil penunjukkan jarum nantinya dikalikan dengan angka pengali sesuai batas ukur.
·                     Hubungkan kedua probe multimeter pada kedua ujung resistor boleh terbalik.
·                     Sambil membaca hasil ukur pada multimeter, putar/geser posisi variabel resistor dan pastikan penunjukan jarum multimeter berubah sesuai dengan putaran VR.
6.                  Mengecek hubung-singkat / koneksi
·                     Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
·                     Pilih skala batas ukur X 1 (kali satu).
·                     Hubungkan kedua probe multimeter pada kedua ujung kabel/terminal yang akan dicek koneksinya.
·                     Baca hasil ukur pada multimeter, semakin kecil nilai hambatan yang ditunjukkan maka semakin baik konektivitasnya.
·                     Jika jarum multimeter tidak menunjuk kemungkinan kabel atau terminal tersebut putus.
7.                  Mengecek diode
·                     Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
·                     Pilih skala batas ukur X 1K (kali satu kilo = X 1000).
·                     Hubungkan probe multimeter (-) pada anoda dan probe (+) pada katoda.
·                     Jika diode yang dicek berupa led maka batas ukur pada X1 dan saat dicek, led akan menyala.
·                     Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti dioda baik, jika tidak menunjuk berarti dioda rusak putus.
·                     Lepaskan kedua probe lalu hubungkan probe multimeter (+) pada anoda dan probe (-) pada katoda.
·                     Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti dioda baik, jika bergerak berarti dioda rusak bocor tembus katoda-anoda.
8.                  Mengecek transistor NPN
·                     Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
·                     Pilih skala batas ukur X 1K (kali satu kilo = X 1000).
·                     Hubungkan probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada kolektor .
·                     Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti transistor rusak putus B-C.
·                     Lepaskan kedua probe lalu hubungkan probe multimeter (+) pada basis dan probe (-) pada kolektor.
·                     Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-C.
·                     Hubungkan probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada emitor.
·                     Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti transistor rusak putus B-E.
·                     Lepaskan kedua probe lalu hubungkan probe multimeter (+) pada basis dan probe (-) pada emitor.
·                     Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-E.
·                     Hubungkan probe multimeter (+) pada emitor dan probe (-) pada kolektor.
·                     Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus C-E.
·                     Note : pengecekan probe multimeter (-) pada emitor dan probe (+) padakolektor tidak diperlukan.
9.                  Mengecek transistor PNP
·                     Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
·                     Pilih skala batas ukur X 1K (kali satu kilo = X 1000).
·                     Hubungkan probe multimeter (+) pada basis dan probe (-) pada kolektor.
·                     Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti transistor rusak putus B-C.
·                     Lepaskan kedua probe lalu hubungkan probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada kolektor.
·                     Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-C.
·                     Hubungkan probe multimeter (+) pada basis dan probe (-) pada emitor.
·                     Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti transistor rusak putus B-E.
·                     Lepaskan kedua probe lalu hubungkan probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada emitor.
·                     Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-E.
·                     Hubungkan probe multimeter (-) pada emitor dan probe (+) pada kolektor.
·                     Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus C-E.
·                     Note : pengecekan probe multimeter (+) pada emitor dan probe (-) pada kolektor tidak diperlukan.
10.              Mengecek Kapasitor Elektrolit (Elko)
·                     Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
·                     Pilih skala batas ukur X 1 untuk nilai elko diatas 1000uF, X 10 untuk untuk nilai elko diatas 100uF-1000uF, X 100 untuk nilai elko 10uF-100uF dan X 1K untuk nilai elko dibawah 10uF.
·                     Hubungkan probe multimeter (-) pada kaki (+) elko dan probe (+) pada kaki (-) elko.
·                     Pastikan jarum multimeter bergerak kekanan sampai nilai tertentu (tergantung nilai elko) lalu kembali ke posisi semula.
·                     Jika jarum bergerak dan tidak kembali maka dipastikan elko bocor.
·                     Jika jarum tidak bergerak maka elko kering / tidak menghantar.

0 komentar:

Posting Komentar

Readers may send comments on this post. The contents of comments not represent the views, opinions or policies Berbagi Pengetahuan and entirely the responsibility of the sender.

Readers can report a comment if it is considered unethical, abusive, defamatory, or redistributed. Berbagi Pengetahuan will consider each complaint and may decide to keep or delete the comment display.